Wednesday, December 22, 2004

Keluh kesah hilang, datanglah sang syukur

Ketidak puasan, tentu bukan kata baru untuk kita. ,Di atas langit masih ada langit’, kata pepatah lama. Ini tentu pabila dipahami dengan bijak, akan menjadi suatu hal yang sangat positif untuk terus memotivasi seseorang, agar tak henti bersemangat dan tak lekas sombong diri (takkabur) dalam mengerjakan apa yang telah menjadi kewajiban-kewajibannya.

Namun kalau ternyata ketidak puasan, diikuti dengan keluhan tak henti-henti, apakah ia masih dapat dibilang positif ?, contohnya, keluhan dibawah ini..

„Aduh, dingin banget ya ..“ keluh saya kesekian kali, seakan tak bosan bibir ini berucap kesah. Musim dingin memang telah menyapa, dan udara hangat dari Heizung, seakan tak mampu membuat hangat badan ini. Lelah berpuluh kali mondar-mandir menyebut kata yang sama, saya duduk di kursi dekat kamar kakak laki-laki saya, dan tentu saja dengan keluh yang kembali diucap . Tiba-tiba terdengar bunyi kursi dimundurkan, dan tak berapa lama kakak laki-laki saya sudah berdiri tepat di samping. Sambil melihatku serius ia berkata sangat singkat, sesingkat ia setelah itu, mengakhiri pembicaraan kami..

Aku menatap nya dengan rasa tak percaya, saat ia meminta saya, untuk pergi keluar, ke balkon mini kami, dan diam disana selama dua menit. Bagaimana mungkin, orang sedang kedinginan disuruh keluar menyambut dingin, gerutuku seketika. „Hanya dua menit koq“ ujarnya, seakan membujuk. Karena ia memasang wajah cukup serius, saya pun mengikuti saja perkataannya, penasaran juga dengan anjuran nya.

Dua menit berselang menahan gigil, saya kembali masuk. Saya duduk, dan kakak ku, ,berkata dari dalam kamarnya.. “Nah, dengan begitu, kamu akan belajar menghargai hangat”..

Kalimat itu sungguh hanya diucap datar, namun mampu membuatku seperti terdikte mengucap Hamdallah, dengan rasa malu diri, tersadar terlalu banyak mengeluh.

Memang, kalau kedinginan, tentu langkah konkret yang harus diambil, membesarkan Heizung (pemanas) atau membungkus diri dengan pakaian yang lebih tebal, bahkan sampai, memasak mie,dengan harap agar badan kembali hangat.. (mau nulis sup, nanti ketahuan gak akuratnya, wong gak bisa masak ;)) .Setelah itu, hangat pasti akan menyelimuti tubuh, namun saya ragu, apakah hamdallah yang dating, dikarenakan penghayatan dan pembelajaran, dari apa yang kita sering kita vonis sebagai suatu ketidaknyamanan??

“Orang yang tidak pernah mengecap pahit, tidak tahu bagaimana rasanya manis” , begitu gambaran satu pepatah jerman.

Manusia mungkin memang seorang yang sangat egois dan terus merasa kurang, namun ternyata ia pun dilengkapi kemampuan untuk bersyukur. Mari pergunakan dengan maksimal hikmah syukur dari Illahi. Karena cara menggapainya tidaklah dapat diucap mudah. Bahkan, pabila ia sudah kita punyai, pertahakan dan jangan mau tukar dengan suatu apapun, karena sejarah mengajarkan kepada kita, begitu banyak ni’mat Allah kepada Bani Israil, yang tersebut dalam surat Al-Baqarah 49-60. Yang Ia pertegas hampir di seluruh permulaan ayat-Nya: “Dan (ingatlah) ketika Kami…”. Namun ternyata, sebanyak-banyak nya bentuk ni’mat yang Ia turunkan, tetap membatu dan kerasnya mereka dari tak mau mengucap syukur. Hingga saat turun sambaran halilintar (ayat 55).. Agar setelah itu: “Setelah itu Kami bangkitkan kamu sesudah kamu mati, supaya kamu besyukur”. Mereka berakhir dengan kehinaan dan nista (ayat 61) dari Rabb-Nya, naudzubillah...

Itulah mengapa saya sering merasa iri, pada hamba-Nya, yang dapat senantiasa bersyukur akan setiap ni’mat Rabb-Nya, walau mungkin bagi yang lain, hanyalah suatu hal yang kecil. Mungkin, ia hanya akan tersenyum teduh, dan berdo’a dalam hati, agar kemampuan bersukur, dan rasa bahagia yang mengikutinya, akan diturunkan sang Rabb, kepada hamba-hamba-Nya ynag lain, yang sedang dalam usaha mencapai keihklasan atau saya menyebutnya dengan syukur murni.

Semoga surat yang berjudul Ar Rahmaan, surat ke 55 dalam Kitabullah, dengan 78 ayat, yang 31 darinya adalah: „Maka ni’mat Tuhan Kamu yang manakah yang kamu dusatakan“, akan terus menjadi pegangan kita, pabila hati mulai terasa lemah, dan kesah kembali akan diujar.

Betapa sedihnya, orang yang mempunyai mata, tapi tak bisa melihat, mempunyai telinga, tapi tak bisa mendengar, mempunyai hati, tapi tak bisa menghayati..

Ya Rabb, berilah kami kekuataan untuk selalu bersyukur kepada-Mu.. Dan, dekatkanlah juga ikatlah diri ini dengan ikatan yang kuat dalam silaturahmi, dengan hamba-hamba-Mu, yang selalu mengucap syukur dalam hatinya, saat ia duduk, terbaring dan tertidur..Amin..


Wassalam,
Anggi Aulina Harahap


„Mit Dankbarkeit sollten sie sich an den Genuss erinnern, ...“ (Kahlil Gibran)
Dengan rasa terimakasih lah seharusnya kalian mengingat akan kenikmatan. (terj. pribadi)

No comments: