Friday, January 07, 2005

Fatamorgana ni'mat tak abadi

... Lembaran tahun yang lalu telah tertutup. Alhamdulillah dihadapkan kini pada tahun 2005. Semoga bilangan hari ke depan selalu berisikan Semangat, Cinta, Kebahagiaan,... (lanjutin sesuai wish nya ya :)) . all d best! ...

---

Kali ini, kusimak, jaman suguhkan sebuah sangsi untuk kata setia ..
Fatamorgana ni’mat tak abadi dikemas sedemikian menarik, minimalisasikan kemungkinan untuk sebuah penampikan

Tak jarang, kusimak, ia ikat jiwa yang telah tak sendiri, dalam jaring ke-plausible-an untuk perbuatan salah, yang disengaja
Bukan tak mungkin, ia jerat dan sungkurkan dalam-dalam jiwa muda yang membara, dalam sarang ketidakacuhan akan permainan bersama nya - segala hal pemuas nafsu tak terkontrol -

Tak pilih „korban“,
Semua dibombardir tak henti-henti
Dengan berbagai variasi peluru fatamorgana ni’mat tak abadi,

Sesaat aku sangsikan terang,
sebuah jalan mulus satu kata setia,
kala kusimak,
kejayaan "desire", kini, pojokan jiwa yang merindu putih

Seakan telah menjadi langka, sang filosof cinta yang tinggikan setia,
yakini, bahwa cinta tak akan temui akhirnya, walau dihadapkan pada kematian
Senja itu, menjadi saksi sepasang jiwa yang merindu,
tersatukan dalam ikatan suci, Ridho Penguasa Tunggal setiap diri
Pijar bintang itu, turut "dengarkan" lantunan syukur mengalir syahdu,
sempurnakan keteguhan janji sang Lelaki,
untuk harmonisasikan kepercayaan lahir bathin kepada sang Penguasa Zaman,
dengan janji senantiasa menjaga sepenuh diri, sang penggenap setengah agamanya

Kali ini, kucoba temukan jawab, mengapa dua pasang jiwa yang telah melebur menjadi satu, seakan menjadi lekas pikun, akan sebuah kata Komunikasi,
kala perbedaan kecil,
langsung menjadi legitimasi untuk berbuat ingkar

Kali ini, kucoba cari jawab, mengapa mereka seketika asing,
akan sebuah eksistensi jalan keluar - yang dapat dicapai -,
saat domplaknya keharmonisan,
terburu-buru dipahami sebagai pembolehan tak tertulis,
untuk berbuat tak setia

Seperti yang kusimak, lagi-lagi,
Ada campur tangan fatamorgana ni’mat tak abadi, di sana

Apakah hidup demikian rumit?
Atau mungkin, jaman paparkan suatu keadaan untuk disikapi,
kala tak setia, setidaknya kusimak hari ini,
lagi-lagi, ditemani fatamorgana ni’mat tak abadi

(o3.01.2004)

1 comment:

krisna said...

terkadang menyikapi nikmat harus jeli...nikmat dariNya terkadang disarukan dengan duniawi...hati yang bersih bisa membedakan...insya allah